Sudah saatnya kebijakan iklim dan pembangunan tidak lagi disusun dari atas ke bawah, tetapi dimulai dari suara dan kebutuhan komunitas lokal. Tanpa perubahan arah, Indonesia bukan hanya akan kehilangan hutan dan tanah suburnya, tetapi juga masa depan generasi yang akan datang.
Sikap dan Tuntutan Jaringan Jaga Deca:
- Tegaskan Status Darurat Iklim dan Ekologis Nasional. Krisis ini membutuhkan langkah luar biasa dan terarah. Status darurat akan memperkuat kebijakan mitigasi dan adaptasi serta alokasi sumber daya.
- Hentikan Ekspansi Industri Ekstraktif dan Perkebunan Besar, Tambang batu bara, nikel, perkebunan sawit, dan proyek food estate harus dievaluasi dan dihentikan jika merusak lingkungan dan masyarakat. Ekspansi ini memperparah deforestasi dan memperbesar risiko bencana.
- Tolak Solusi Semu dan Greenwashing
Perdagangan karbon, net-zero berbasis pasar, dan dekarbonisasi sukarela sering menjadi kedok korporasi untuk melanjutkan bisnis seperti biasa. Pemerintah harus menolak dan mencari solusi nyata berbasis keadilan sosial dan ekologis. - Alihkan Subsidi dari Energi Fosil ke Energi Terbarukan dan Agroekologi Komunitas. Subsidi energi fosil yang besar memperparah krisis iklim. Dana harus diarahkan untuk mendukung energi terbarukan yang dikelola masyarakat dan pertanian berkelanjutan.
- Keadilan Iklim: Tuntut Pertanggungjawaban Negara Maju dan Korporasi Besar. Mereka harus memberikan kompensasi dan transfer teknologi bersih kepada negara berkembang yang paling terdampak, sebagai bagian dari keadilan global.
- Libatkan Komunitas Lokal dan Perempuan dalam Kebijakan.
Pengambilan keputusan harus inklusif, menghormati hak-hak masyarakat adat, petani kecil, dan perempuan sebagai penjaga lingkungan. - Perkuat Perlindungan Sosial dan Adaptasi Berbasis Komunitas
Membangun sistem yang mengurangi kerentanan masyarakat terhadap bencana dan memperkuat ketahanan lokal.
Krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan. Ia adalah cermin ketimpangan global, kehancuran ekosistem, dan kekerasan sistemik terhadap rakyat kecil. Di balik setiap banjir dan kebakaran hutan, ada jejak keputusan politik yang mengabaikan keselamatan bersama demi keuntungan segelintir elite.
Di balik setiap petani yang kehilangan tanahnya, ada proyek raksasa yang mengatasnamakan pembangunan namun meninggalkan kehancuran. Inilah waktunya untuk menyatakan perlawanan.
Perjuangan melawan krisis iklim adalah perjuangan untuk hidup yang layak, keadilan sosial, dan masa depan yang tidak dibangun di atas penderitaan banyak orang. Ini bukan sekadar tentang menyelamatkan pohon atau menanam ulang hutan, tapi tentang merebut kembali kendali atas tanah, air, benih, dan udara—sumber kehidupan yang selama ini dirampas dan dikomodifikasi.
Kami menyerukan kepada seluruh rakyat:
Untuk tidak tinggal diam, karena diam adalah memberi ruang pada kehancuran.
Untuk mengorganisasi diri, membangun kekuatan kolektif dari desa hingga kota, dari petani hingga buruh, dari perempuan hingga pemuda.
Untuk mengubah arah sejarah, dari sistem yang memusnahkan menjadi sistem yang memulihkan—dari ekstraksi menuju regenerasi, dari dominasi menuju keadilan sosial.
Karena menyelamatkan bumi bukan tugas segelintir orang, melainkan gerakan bersama. Dan gerakan itu dimulai dari keberanian untuk berkata: Cukup sudah. Kami melawan.
RED














