BuolOpini

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia

×

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Sebarkan artikel ini

Posisi Indonesia dalam peta risiko global semakin mengkhawatirkan. Dalam laporan World Risk Index (WRI) 2024, Indonesia tercatat sebagai negara kedua paling berisiko bencana di dunia, hanya berada di bawah Filipina. Dengan skor risiko sebesar 41,13, Indonesia dikategorikan sebagai negara dengan tingkat kerentanan dan eksposur yang sangat tinggi terhadap bencana alam dan krisis iklim.

Skor ini bukan sekadar angka. Ia menggambarkan perpaduan antara paparan geografis terhadap berbagai bencana—dari gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, hingga banjir dan kekeringan—dengan rendahnya kapasitas sosial-ekonomi untuk merespons dan beradaptasi. Artinya, selain sangat rentan secara fisik, Indonesia juga belum cukup siap dalam perlindungan warganya, pembangunan infrastruktur tangguh, maupun kebijakan mitigasi yang efektif.

Advertisement
Example 468x60
Scroll untuk lanjut membaca

Posisi ini menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar berada di garis depan bencana, tetapi sudah berada di titik rawan global. Dalam konteks krisis iklim, posisi ini juga mencerminkan kegagalan struktural dalam menyeimbangkan antara pembangunan dan perlindungan ekosistem serta kehidupan rakyat.

Ketika pembangunan nasional masih bertumpu pada ekspansi industri ekstraktif dan proyek-proyek besar yang memperparah kerusakan lingkungan, maka risiko ini tidak akan menurun. Justru akan meningkat, dan masyarakat paling miskin serta terpinggirkanlah yang akan menanggung dampaknya terlebih dahulu dan paling parah.

Krisis iklim yang kita hadapi saat ini bukanlah bencana yang lahir dari kesalahan kolektif seluruh umat manusia. Narasi yang menyamakan jejak karbon setiap individu atau setiap negara hanya menyamarkan ketimpangan struktural global yang menjadi akar persoalan.

Sejak dua abad terakhir, emisi karbon dioksida (CO₂) dari pembakaran bahan bakar fosil—batu bara, minyak, dan gas—telah menghangatkan bumi secara drastis. Namun jika kita menilik lebih dalam, pelaku utama bukanlah petani kecil, masyarakat adat, atau warga negara-negara berkembang, melainkan segelintir negara industri maju dan korporasi global yang menjadi motor utama sistem ekonomi berbasis ekstraksi dan eksploitasi.
Global Carbon Project menjelaskan dengan gambling, bahwa Amerika Serikat telah menyumbang sekitar 400 miliar ton CO₂ secara historis. Eropa telah menghasilkan sekitar 500 miliar ton CO₂ sejak revolusi industri pada abad ke-18 dan Tiongkok, saat ini penghasil  penghasil emisi tahunan terbesar (sekitar 11 miliar ton per tahun), namun kontribusi historisnya masih sekitar 200 miliar ton, dan itu terjadi dalam empat dekade terakhir—seiring lonjakan industrialisasi.

Example 468x60
error: DILARANG MENGCOPY KONTEN TANPA IZIN REDAKSI FRAMENEWS.ID