Buol, FrameNews.Id – Menyambut peringatan Hari Tani Nasional (HTN), sejumlah elemen masyarakat di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, bersiap menggelar aksi karnaval rakyat bertajuk “Reclaim The Space” pada Kamis, 24 September 2026 mendatang. Aksi ini mengusung semangat perjuangan atas hak tanah yang dinilai semakin terancam oleh ekspansi industri ekstraktif skala besar.
Hari Tani Nasional sendiri diperingati setiap 24 September untuk mengenang penetapan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria oleh Presiden RI kala itu. Namun lebih dari sekadar mengenang sejarah, peringatan ini juga menjadi momentum untuk membaca ulang persoalan agraria yang hingga kini masih terus bergulir di berbagai daerah, termasuk di Buol.
Para penggagas aksi menyoroti bagaimana ruang hidup masyarakat, khususnya di Buol, kian menyempit akibat perluasan perkebunan dan pertambangan skala besar, ditambah keberadaan industri-industri monopolis lainnya. Situasi ini diperparah oleh krisis iklim serta lahirnya sejumlah kebijakan yang dinilai bersifat top-down, tanpa melibatkan kaum tani, buruh, perempuan, pemuda desa, dan kelompok marjinal sebagai subjek dalam pengambilan keputusan yang menyangkut ruang hidup mereka sendiri.
Salah satu isu yang menjadi sorotan utama tahun ini adalah Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengaturan Reforma Agraria yang tengah dikebut pembahasannya di DPR RI. Meski digadang-gadang sebagai payung hukum bagi pelaksanaan reforma agraria sejati yang telah lama dinantikan, draf RUU yang beredar dinilai belum mencerminkan semangat tersebut. Objek reforma agraria dalam RUU ini dianggap tak jauh berbeda dari program serupa era sebelumnya, yakni berfokus pada lahan-lahan yang sudah berkonflik atau telah dikuasai masyarakat, bukan pada perombakan struktur monopoli agraria secara menyeluruh.
Lebih jauh, muncul kekhawatiran bahwa RUU tersebut lebih berorientasi pada penanganan konflik agraria dan pemenuhan target sertifikasi lahan melalui proyek seperti Integrated Land Administration and Spatial Planning (ILASP), sebuah program yang didukung Bank Dunia dengan total pembiayaan mencapai sekitar 654 juta dolar AS atau setara Rp11,5 triliun.
Melalui aksi karnaval ini, massa mendorong agar setiap kebijakan agraria yang dirancang pemerintah benar-benar lahir dari pengalaman dan pengetahuan rakyat di lapangan, bukan semata untuk menuntaskan kesepakatan dengan lembaga-lembaga pembiayaan pembangunan internasional. Kelompok yang paling dirugikan dari krisis akibat eksploitasi sumber daya alam ini, menurut mereka, adalah kaum tani, buruh, masyarakat adat, perempuan, dan kelompok marginal lainnya.
Karnaval akan dimulai pukul 08.00 hingga 11.00 Wita, dengan titik kumpul di Lampu Merah Kali, dilanjutkan longmarch menuju Gedung DPRD Kabupaten Buol. Peserta diimbau mengenakan kostum yang merepresentasikan berbagai profesi rakyat Buol serta membawa topi atau payung. Selama aksi, panggung terbuka akan diisi dengan lagu perjuangan, monolog, pembacaan puisi, hingga orasi dari peserta.
Panitia turut mengimbau peserta membawa bekal makanan sendiri, sementara minuman akan disediakan oleh penyelenggara di lokasi. Obat-obatan pribadi juga disarankan dibawa masing-masing, meski panitia turut menyiapkan obat generik untuk kebutuhan darurat. Bagi masyarakat yang ingin bergabung, dapat menghubungi kontak panitia yang telah disediakan dengan terlebih dahulu memperkenalkan diri melalui pesan singkat.
“No Land! No Life!” — menjadi slogan utama yang diusung dalam aksi damai memperingati Hari Tani Nasional 2026 ini.
RED






