Buol

Naik Perahu dan Menjahit Kostum Sendiri, Guru Seni di Buol Ini Rela Jemput Siswa demi Menghidupkan Tari Pogogul

×

Naik Perahu dan Menjahit Kostum Sendiri, Guru Seni di Buol Ini Rela Jemput Siswa demi Menghidupkan Tari Pogogul

Sebarkan artikel ini

Buol, Framenews.id – Di tengah gempuran tarian viral dari media sosial, Yulianti SH Antu, guru Seni Budaya SMPN 2 Biau, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, memilih jalan yang tidak biasa. Ia mendatangi rumah siswa, menyeberangi sungai dengan perahu, dan menjahit sendiri kostum tari agar anak-anak didiknya mengenal budaya daerah mereka, yakni Tari Pogogul.

Upaya itu ia rangkum dalam program bertajuk “Melati Pogogul”, yakni melestarikan budaya dan Tari Pogogul melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam.

Bagi Yulianti, Tari Pogogul lebih dari sekadar rangkaian gerak. Tarian ini menggambarkan kehidupan masyarakat Buol yang menjunjung kebersamaan dan gotong royong dalam mengolah tanah, mulai dari menanam, merawat, hingga memanen. Tari ini juga menjadi wujud kecintaan terhadap tanah kelahiran, Bumi Pogogul.

Keprihatinannya bermula dari kenyataan di kelas. Banyak siswa dengan cepat menirukan tarian populer dari TikTok, seperti dance Brazil dan goyang helikopter. Namun ketika ditanya tentang Tari Pogogul, masih banyak yang belum mengenalnya dengan baik, bahkan ada yang tidak tahu sama sekali.

Pemetaan sederhana yang dilakukannya memperkuat kegelisahan itu. Dari 178 siswa kelas VIII, 25 siswa memiliki minat rendah terhadap seni tari, 114 siswa berminat sedang, dan 39 siswa berminat tinggi. Menurut Yulianti, data tersebut menunjukkan setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda. Ada yang perlu diajak berani mencoba, ada yang butuh lebih banyak latihan, dan ada yang sudah siap dikembangkan lebih jauh.

Tantangan yang dihadapinya tidak ringan. Waktu pelajaran Seni Budaya terbatas, sementara seni membutuhkan proses, pemahaman, dan latihan berulang. Sebagian siswa malu dan takut salah saat bergerak di depan teman. Kondisi geografis juga menyulitkan. Sejumlah siswa tinggal di wilayah pegunungan, bahkan ada yang berada di seberang sungai dan hanya bisa dijangkau dengan perahu, apalagi saat hujan deras.

Yulianti sendiri tinggal di Dusun Arab, sekitar 10 kilometer dari sekolah, dan menempuh perjalanan itu setiap hari. Dalam kondisi tertentu ia harus membawa bayinya. Di luar jam sekolah, ia mengajar les vokal untuk menambah penghasilan, dan sebagian hasilnya ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran Seni Budaya.

“Ada saatnya saya merasa lelah, harus membagi waktu antara sekolah, keluarga, dan pendampingan siswa. Namun saya memilih untuk tidak menjadikan keadaan itu sebagai alasan untuk berhenti,” tuturnya.

Ia memulai pembelajaran dengan mengenalkan cerita dan makna di balik Tari Pogogul, bukan hanya gerakannya. Suasana latihan dibuat nyaman agar siswa tidak takut salah. Siswa yang masih malu diajak berlatih bersama teman, sementara yang menunjukkan minat dan kemampuan lebih tinggi didampingi secara intensif.

Karena waktu di kelas terbatas, Yulianti melanjutkan pendampingan di luar jam sekolah dengan mendatangi rumah-rumah siswa. Untuk menjangkau siswa di seberang sungai, ia menyeberang menggunakan perahu. Tak jarang ia pulang sore atau malam, waktu yang semestinya ia habiskan bersama keluarga dan bayinya yang masih menyusu.

Ia juga menciptakan media belajar sederhana bernama TaSagu, tas yang terbuat dari batang sagu. Di dalamnya tersimpan perlengkapan seperti selendang dan kenop pola lantai. Tas itu dibawanya ke sekolah maupun saat mendatangi rumah siswa.

Untuk kostum, Yulianti bahkan pergi ke Gorontalo karena kain yang dibutuhkan sulit ditemukan di Buol. Kain itu dibeli dengan penghasilan dari les vokal, lalu ia jahit sendiri menjadi pakaian tari untuk para siswa. “Saya ingin ketika siswa mengenakannya, mereka merasa bangga membawa budaya daerahnya ke atas panggung,” ujarnya.

Dari proses panjang itu, terpilih enam siswa dengan kemampuan sangat baik untuk mewakili sekolah dalam lomba Tari Pogogul. Tiga di antaranya tinggal di seberang sungai, namun kondisi tersebut tak menghalangi semangat mereka berlatih. Saat keenamnya akhirnya tampil di panggung dengan kostum buatan sang guru, Yulianti merasa melihat hasil dari perjalanan panjang. Baginya, momen itu bukan hanya soal lomba, melainkan keberanian siswa untuk belajar, bekerja sama, dan menunjukkan budaya daerahnya.

Hasilnya mulai terlihat. Dari 178 siswa kelas VIII, sebanyak 153 siswa atau 86 persen kini mampu melakukan gerakan dasar Tari Pogogul. Sisanya, 25 siswa atau 14 persen, masih memerlukan pendampingan lebih lanjut. Siswa juga tampak lebih berani mencoba dan lebih antusias mengikuti latihan. Keenam siswa yang dipersiapkan mengikuti lomba pun belajar tentang disiplin, kerja sama, menerima masukan, dan keberanian tampil.

Dukungan orang tua turut menguat. Bahkan ada orang tua yang siap membiayai dan meminta Yulianti membuka sanggar seni agar anak-anak punya tempat untuk terus belajar. Gagasan itu kini menjadi motivasi baginya untuk mewujudkan sanggar budaya bagi generasi muda Buol.

Langkahnya juga menginspirasi rekan sejawat. Seorang guru seni yang berfokus pada seni musik berencana melakukan hal serupa untuk musik tradisional Buol. Keduanya berencana berkolaborasi membangun sanggar seni yang berfokus pada budaya tradisional.

Dari pengalaman ini, Yulianti memaknai Pembelajaran Mendalam sebagai proses mengalami, bukan sekadar mengetahui. Pembelajaran menjadi berkesadaran ketika siswa memahami bahwa Tari Pogogul adalah bagian dari identitas mereka. Menjadi bermakna ketika mereka mengerti kaitan gerakan itu dengan gotong royong, kerja keras, dan cinta tanah kelahiran. Dan menjadi menggembirakan ketika mereka menikmati latihan serta bangga menampilkan tari daerahnya.

“Saya tidak hanya membawa Tas Seni. Saya juga membawa harapan agar Tari Pogogul tetap hidup di tangan generasi muda Buol,” kata Yulianti.

Menurutnya, melestarikan budaya bukan sekadar menjaga sebuah tarian agar tidak hilang, melainkan memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal, memahami, mencintai, dan merasa memiliki budayanya sendiri. Ia menegaskan bahwa perjalanan ini belum berakhir, dan perjuangan mengenalkan kesenian Kabupaten Buol masih akan terus berlanjut.

 

error: DILARANG MENGCOPY KONTEN TANPA IZIN REDAKSI FRAMENEWS.ID