Dalam diam, aku menapak sunyi di daerah paling utara Provinsi Sulawesi Tengah [Sulteng] Kabupaten Buol namanya. Sebuah daerah yang oleh sebagian orang disebut sebagai negeri dari mistis kayangan, berbalut warna kuning keemasan.
Penulis : Rahman Asnawi
Framenews.id – Pertengahan bulan Ramadan tahun 2025 atau 1446 Hijriah, aku kembali menjejakkan kaki di Bumi Pogogul. Daerah yang pernah kutinggalkan dalam kesunyian politik dan dinamika yang tak sempat kurampungkan kisahnya.
Sebagai seorang jurnalis, aku pernah berpindah dari satu daerah ke daerah lain dari Poso hingga Tojo Una-Una, dari Banggai hingga Morowali, bahkan ke kawasan tambang nikel yang kini begitu ramai diperbincangkan.
Di lembah Palu, Sigi, Donggala, hingga Parigi Moutong pun jejak langkahku sempat tertinggal bersama cerita-cerita manusia yang kutemui.
Mulai dari media cetak hingga media daring, aku terus menulis dengan talenta yang, aku yakin, adalah anugerah dari Allah SWT. Lewat tulisan, aku belajar mengabdi. Lewat kata, aku berusaha merekam denyut kehidupan.
Pernah, aku mencoba berhenti menulis. Dua tahun lamanya aku berdiam, mencoba melupakan hiruk pikuk dunia jurnalistik. Tapi rupanya, jiwa ini tak bisa jauh dari pena dan cerita.
Seorang kawan jurnalis senior di Jakarta, yang kala itu bekerja di sebuah televisi swasta nasional, pernah berkata kepadaku:
“Kau tak akan bisa berhenti menulis, meski keinginan itu ada. Karena menulis sudah mendarah daging di jiwamu.”
Kata-kata itu selalu bergema dalam benak. Dan benar, aku tak bisa berhenti menulis.
Bagiku, daerah paling utara di Sulawesi Tengah ini — tempat kakiku kini berpijak — adalah wilayah yang berbeda. Penduduknya yang homogen, suasananya yang khas, dan ketenangan yang sulit kutemui di tempat lain, membuat Buol memiliki pesona tersendiri.
(Bersambung ke Bagian 2 )









