Ragam

Menapak Sunyi di Ujung Utara Sulawesi Tengah, Membangun Buol Maju yang Agamais, Argopolitan, dan Berkelanjutan (Bagian 4)

×

Menapak Sunyi di Ujung Utara Sulawesi Tengah, Membangun Buol Maju yang Agamais, Argopolitan, dan Berkelanjutan (Bagian 4)

Sebarkan artikel ini

WAKTU terus berjalan, dan Buol kini menapaki babak baru dalam perjalanannya. Di tengah geliat pembangunan, daerah ini mulai menampakkan wajah modernnya — tanpa meninggalkan akar nilai dan budaya yang selama ini menjadi jati diri masyarakatnya.

Penulis : Rahman Asnawi

Buol – Buol bukan lagi sekadar daerah diujung utara yang jauh dari pusat. Ia kini menjelma menjadi magnet ekonomi baru di Sulawesi Tengah, dengan potensi agribisnis yang besar dan peluang investasi yang terbuka lebar. Hamparan lahan pertanian, perkebunan kelapa, jagung yang luas menjadi sumber kehidupan sekaligus masa depan bagi daerah ini.

Dalam visi “Buol Maju, Agamais, Argopolitan, dan Berkelanjutan,” tampak arah yang jelas: membangun daerah ini tidak hanya dengan beton dan aspal, tetapi juga dengan keimanan, kearifan, dan kesadaran lingkungan.

Konsep Argopolitan yang diusung pemerintah daerah menjadi fondasi baru bagi pembangunan ekonomi rakyat. Desa-desa diarahkan menjadi pusat pertumbuhan produktif, berbasis pertanian dan peternakan modern, namun tetap ramah lingkungan. Buol tengah berbenah, menciptakan keseimbangan antara alam, ekonomi, dan spiritualitas.

Sementara itu, sektor pariwisata pelan tapi pasti mulai menggeliat. Dari pesona alam Pantai Lakea yang berpasir putih, keindahan laut Paleleh yang memukau, hingga panorama perbukitan Pogogul yang legendaris. Semua menyimpan potensi luar biasa untuk menjadi destinasi unggulan pariwisata.

Buol tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menawarkan kehangatan budaya dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakatnya. Kegiatan adat, kuliner khas, serta keramahan warga menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang datang.

Namun di antara semua itu, ada satu tempat yang kini menjadi ikon wisata kebanggaan Buol yakni Tanjung Dako.
Di sinilah laut biru bertemu dengan langit cerah, dan waktu seolah berjalan lebih lambat. Di tepian pantai ini, deburan ombak berpadu dengan suara tawa nelayan yang melempar mata kail di pagi hari, berharap rezeki dari kedalaman laut Pogogul.

Menjelang senja, pemandangan berubah menjadi potret keindahan yang sempurna: anak-anak muda, generasi Gen Z, menggelar tenda-tenda berwarna di sepanjang pantai. Mereka menyalakan api unggun, berbagi cerita, menulis puisi, atau sekadar menatap cakrawala — menjadikan alam sebagai ruang inspirasi dan tempat bertemu dengan diri sendiri.

Di bawah langit jingga yang perlahan berubah menjadi malam bertabur bintang, Tanjung Dako menjadi ruang pertemuan antara alam, manusia, dan harapan. Tempat di mana kesunyian tak lagi menakutkan, tetapi justru menenangkan.

Bagi siapa pun yang datang, Tanjung Dako adalah tempat ternyaman berwisata di Buol, tempat di mana keindahan bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk direnungkan.

Dan di sanalah, dalam debur ombak yang tak henti menyapa, aku menutup perjalanan ini dengan satu keyakinan:
Bahwa Buol sedang menulis kisah masa depannya sendiri. Kisah tentang kemajuan yang berakar pada iman, berpijak pada tanah agraris, bernafas dari laut yang biru, dan berlari menuju keberlanjutan.

(TAMAT)

Penulis adalah redaktur Framenews.Id

error: DILARANG MENGCOPY KONTEN TANPA IZIN REDAKSI FRAMENEWS.ID