Kembali ke Buol bukan sekadar perjalanan fisik. Ia seperti perjalanan batin — semacam penebusan terhadap masa lalu yang sempat kutinggalkan dalam riuh pergulatan waktu.
Penulis : Rahman Asnawi
Framenews.Id – Kabupaten kecil di ujung utara Sulawesi Tengah ini, kini tak lagi sama seperti beberapa tahun silam. Jalan-jalan yang dulu sempit mulai terbuka. Bangunan pemerintah berdiri lebih tertata, dan geliat ekonomi rakyat mulai terasa di setiap sudut pasar. Namun di balik perubahan itu, aku juga melihat sisi lain: hiruk yang kadang menelan hening, dan politik yang sesekali mengaburkan makna pengabdian.
Sebagai jurnalis, aku belajar bahwa setiap daerah memiliki cara sendiri dalam menuturkan kisahnya. Di Buol, cerita tidak hanya hidup di gedung-gedung atau rapat-rapat resmi, tetapi di ladang-ladang jagung, di perahu-perahu nelayan yang berlabuh di Pantai Paleleh, juga di wajah-wajah petani yang menunggu hujan datang.
Di sini, menulis tidak sekadar menyusun kata. Ia adalah upaya memahami denyut lokal yang sering terlewat oleh pandangan pusat. Menulis tentang Buol berarti menulis tentang kehidupan yang berjalan dalam kesederhanaan — tetapi penuh makna dan perjuangan.
Dan mungkin inilah alasan mengapa aku kembali: bukan hanya untuk bekerja, tetapi untuk menemukan kembali makna dari profesi yang kupilih sejak dulu.
Menjadi jurnalis bukan tentang mengejar sensasi atau sekadar mencari berita. Ia adalah panggilan nurani untuk terus menulis, merekam, dan mengabarkan tentang manusia dan kemanusiaan.
Di daerah paling utara ini, aku kembali menemukan diriku sendiri. Di antara langit Pogogul yang biru dan udara pesisir yang membawa aroma asin laut, aku belajar bahwa tugas jurnalis tidak pernah usai. Selama kehidupan masih berdenyut, akan selalu ada kisah yang layak ditulis — dan aku akan terus menulisnya.
( Bersambung ke bagian 3 )









