Ragam

Menapak Sunyi di Ujung Utara Sulawesi Tengah, Buol Mengajarkan Arti Ketulusan dan Kesetiaan Nurani (Bagian 3)

×

Menapak Sunyi di Ujung Utara Sulawesi Tengah, Buol Mengajarkan Arti Ketulusan dan Kesetiaan Nurani (Bagian 3)

Sebarkan artikel ini

Di setiap langkah yang kutapaki di tanah Pogogul, aku seperti membaca kembali lembaran lama hidupku — penuh jejak, luka, dan pembelajaran.

Penulis : Rahman Asnawi

Buol, dengan segala kesunyian dan kehangatannya, mengajarkan bahwa tempat bukan hanya soal di mana kita berada, tapi tentang di mana hati kita berlabuh.

Waktu berjalan, dan perubahan terus menulis kisahnya sendiri. Jalan-jalan baru dibuka, gedung-gedung terus dibangun, teknologi merambah pelosok. Namun aku selalu percaya: kemajuan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi menara yang dibangun, melainkan dari seberapa dalam nilai dan nurani dijaga.

Sebagai jurnalis, aku tahu medan ini tak mudah. Kadang berita tak selalu berujung pada pujian, kadang kejujuran berhadapan dengan kepentingan. Tapi di situlah letak kemuliaan profesi ini — bertahan di tengah badai, menulis meski dalam sepi, dan menjaga nurani di antara riuh kepalsuan.

Menulis di Buol, bagiku, adalah cara untuk tetap beriman kepada kebenaran. Bahwa kata bisa menjadi cahaya, berita bisa menjadi pengingat, dan tulisan bisa menjadi doa panjang bagi tanah ini.

Aku ingin melihat Buol tumbuh bukan hanya dalam pembangunan fisik, tapi juga dalam kesadaran moral dan intelektual warganya.

Semoga para pemimpin daerah mengerti bahwa membangun bukan hanya menegakkan dinding, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan rakyatnya.

Dan jika kelak langkahku kembali membawa ke tempat lain, aku ingin Buol tetap hidup dalam setiap huruf yang kutulis — sebagai tanah yang mengajarkan arti ketulusan, kesetiaan, dan panggilan untuk terus menulis.

Karena pada akhirnya, sebagaimana yang pernah dikatakan kawanku dulu:

“Menulis bukan sekadar pekerjaan, tapi bagian dari jiwa yang tak bisa mati”.

Maka biarlah aku terus menapak sunyi di ujung utara Sulawesi Tengah ini — menulis dalam diam, menyala dalam kata, dan mengabdi lewat goresan kalimat per kalimat, untuk menyuarakan suara nuarani.

(Bersambung ke Bagian 4 )

error: DILARANG MENGCOPY KONTEN TANPA IZIN REDAKSI FRAMENEWS.ID