BuolSulawesi Tengah

Monuni: Ayunan Cinta dari Tanah Buol

×

Monuni: Ayunan Cinta dari Tanah Buol

Sebarkan artikel ini

Di tengah arus modernisasi yang deras, ada satu momen yang tetap bergema hangat di ujung Utara Sulawesi Tengah, tepatnya di tanah Buol tradisi Monuni.

Oleh : Syari M Joesoef

Advertisement
Example 468x60
Scroll untuk lanjut membaca

Sebuah perayaan sederhana namun sarat makna, saat seorang bayi untuk pertama kalinya diletakkan dalam buaian setelah tali pusarnya jatuh.

Ini bukan sekadar kebiasaan, tapi napas budaya yang terus dihidupkan oleh masyarakat Buol sebagai penanda syukur dan ikatan yang lebih dalam antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Monuni bukan hanya tentang ayunan kecil yang terbuat dari kayu bindano. Ia adalah simbol bahwa seorang anak bukan hanya milik keluarga, melainkan juga milik masyarakat.

Sebuah pengakuan kolektif, bahwa tumbuh kembang manusia adalah tanggung jawab bersama.

Di dalam upacara ini, terselip harapan-harapan yang dikayuh lembut bersama ayunan, harap agar si kecil tumbuh dalam keluhuran, dalam keberkahan, dalam cinta.

Yang membuat Monuni istimewa adalah bagaimana ia menggabungkan nilai-nilai adat dengan nuansa spiritual Islam, mencerminkan identitas masyarakat Buol yang unik, religius, komunal, dan berakar kuat pada tradisi.

Lihatlah simbol-simbol yang digunakan tunas kelapa untuk keturunan, bambu kuning untuk kemuliaan. Ini bukan sekadar dekorasi, tapi doa yang membisu, puisi yang tak ditulis.

Di zaman ketika bayi sering kali dikenalkan pada dunia lewat akun media sosial sebelum napas pertama mereka tuntas, Monuni menawarkan sesuatu yang jauh lebih intim, sebuah perjumpaan pertama dengan dunia dalam pelukan budaya.

Tradisi ini mengajarkan bahwa membesarkan anak bukan hanya tentang gizi dan gadget, tapi tentang akar dan arah. Bahwa sebelum kita diajarkan berjalan, kita harus diajarkan tempat kita berdiri.

Monuni mungkin tak sepopuler perayaan-perayaan besar nasional. Tapi ia seperti lagu nina bobo yang hanya didengar oleh mereka yang punya telinga untuk rasa.

Dan di sanalah kekuatannya, ia tidak mencari panggung, tapi membangun pondasi. Pondasi kasih, gotong royong, dan kesadaran bahwa hidup adalah warisan yang harus dijaga bersama.**

Penulis : Redaktur Framenews.id

Example 468x60
error: DILARANG MENGCOPY KONTEN TANPA IZIN REDAKSI FRAMENEWS.ID