Dalam sebuah bungkus daun pisang yang sederhana, tersimpan warisan yang kaya akan rasa dan makna. Namanya Tombouat, makanan khas dari Buol, Sulawesi Tengah, yang lebih dari sekadar hidangan ia adalah cerita tentang siapa kita dan bagaimana kita memilih untuk hidup bersama.
Oleh : Syarif M Joesoef
Kata totombouatan dalam bahasa Buol berarti “saling menyatu.” Filosofi ini tidak hanya merujuk pada perpaduan sagu, daging ayam, lemak, dan rempah-rempah yang membentuk Tombouat.
Lebih dari itu, ia mencerminkan semangat hidup masyarakat Buol yang menjunjung tinggi kebersamaan, kekeluargaan, dan harmoni sosial.
Makanan ini bukan hanya soal rasa gurih atau tekstur lembut yang memanjakan lidah, tapi tentang bagaimana budaya dan identitas bisa dibungkus, dikukus, dan disajikan dengan cinta.
Tombouat bukanlah makanan yang dibuat terburu-buru. Ia membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan kerja sama. Dari menyiapkan bahan, membungkus dengan daun pisang, hingga merekatkan dengan lidi semuanya dilakukan bersama.
Di sinilah letak keindahannya. Makanan ini menjadi ruang dialog antar generasi, tempat nenek mengajari cucunya, tempat keluarga berkumpul, dan nilai-nilai diwariskan tanpa perlu ceramah.
Menariknya, makanan ini tidak hanya dikenal di Buol. Di Gorontalo, ia hadir dengan nama Ilabulo. Di Tolitoli, ia pun punya tempat tersendiri dalam tradisi.
Ini menunjukkan bahwa nilai kebersamaan dalam totombouatan melampaui batas geografis. Ia menjadi simbol bagaimana perbedaan bisa tetap saling mendekap, bukan saling menjauh.
Kini, ketika Tombouat telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah, kita diajak untuk merenung, masihkah kita hidup dalam semangat totombouatan?
Di tengah dunia yang semakin individualistik, masihkah kita menyisakan ruang untuk kebersamaan, gotong royong, dan kehangatan yang dulu begitu akrab di dapur nenek?
Tombouat mengajarkan bahwa sesuatu yang sederhana bisa punya dampak besar jika dibuat dengan hati. Bahwa rasa yang mendalam tidak selalu berasal dari bumbu mahal, tapi dari tangan yang bekerja bersama dan niat yang tulus.
Jadi, lain kali jika kamu berkesempatan mencicipi Tombouat, ingatlah. Kamu sedang tidak hanya menyantap makanan, tapi juga sedang menyerap nilai dan cerita dari sebuah masyarakat yang tahu betul arti “menyatu.”
Karena di balik rasa, selalu ada budaya. Dan di balik budaya, ada jiwa.**
Penulis : Redaktur Framenews.id









