Buol

Di Rumah yang Runtuh di Tepi Abrasi, Bupati Buol Menyimak Cerita yang Tak Tercatat di Meja Rapat

×

Di Rumah yang Runtuh di Tepi Abrasi, Bupati Buol Menyimak Cerita yang Tak Tercatat di Meja Rapat

Sebarkan artikel ini
Dok : Akun Facebook @Bupati Buol

Buol, Framenews.Id — Jelang senja dan lazuardi menapak langkah pasti, angin sore di Kelurahan Leok, Lingkungan Damar–Lepa itu membawa suara ombak yang tak lagi bersahabat. Di atas tanah yang mulai tergerus laut, berdirilah satu rumah yang kini tinggal rangka rapuh, jejak benturan antara air dan nasib.

Di sinilah Bupati Buol, H. Risharyudi Triwibowo, memilih berhenti dan mendengarkan cerita yang tidak pernah masuk dalam agenda formal pemerintah: cerita tentang kehilangan.

Advertisement
Example 300x600
Scroll untuk lanjut membaca

Kunjungan itu dilakukan Minggu (30/11/2025). Tidak ada podium, tidak ada mikrofon. Hanya tanah basah, serpihan papan, dan keluarga yang sedang berusaha tenang setelah rumah mereka ambruk diterjang abrasi.

Dok : Akun Facebook @Bupati Buol

Sang Bupati berjalan perlahan melewati puing-puing. Matanya mengikuti retakan tanah yang mengarah langsung ke bibir pantai, pengingat senyap bahwa alam bisa bergerak tanpa jeda.

Ia lalu duduk bersama keluarga pemilik rumah, mendengarkan dari jarak yang membuat setiap kata terdengar utuh.

“Musibah seperti ini selalu melukai, tapi pemerintah tidak boleh hanya hadir sebagai penonton,” ucapnya dengan suara yang lebih mirip sapaan seorang tetangga daripada seorang pejabat.

Dalam dialog singkat itu, ia tak hanya bertanya tentang kronologi kejadian. Ia mendengar tentang malam-malam yang tak lagi tenang, tentang air yang merayap sedikit demi sedikit, tentang ketakutan anak-anak, dan tentang bagaimana sebuah rumah bukan sekadar bangunan, tapi tempat menyimpan keberanian dan cita-cita.

Sesekali, Bupati menatap ke arah garis pantai, seakan mencoba membaca apa yang tidak terlihat oleh talenta teknis para perencana pembangunan: risiko yang tumbuh dalam diam.

“Sebagai pemimpin, kami hadir untuk mendengarkan, merasakan, dan berupaya mencari solusi,” katanya.

Bukan janji, tetapi pengakuan bahwa pemerintahan yang baik harus dimulai dari langkah kaki yang mau menginjak tanah tempat warganya berdiri.

Kunjungan itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi keluarga yang terdampak, kehadiran itu menjadi ruang bernapas di tengah kecemasan.

Mereka tak sekadar melihat seorang pejabat; mereka melihat pemerintah dalam bentuk paling sederhana—hadir.

Di penghujung sore, cahaya matahari memantul pada sisa dinding rumah yang runtuh. Dalam bayangan panjang itu, harapan tetap tumbuh. Warga menginginkan lebih dari sekadar bantuan darurat: mereka berharap daerah pesisir Leok menjadi prioritas penanganan, bukan lagi wilayah yang hanya diingat ketika bencana datang.

Di antara puing-puing itu, satu hal kembali terasa jelas—bahwa sebuah kunjungan bisa mengubah cara warga melihat pemerintah, dan cara pemerintah melihat warganya. Dan pada hari itu, di rumah yang nyaris hilang ditelan abrasi, kedekatan itu terasa nyata.

RED

Example 300x600
Example 300x600
error: DILARANG MENGCOPY KONTEN TANPA IZIN REDAKSI FRAMENEWS.ID