Yang namanya bom waktu, pasti akan meledak. Ledakannya tidak serta merta terjadi pada awal proses tersebut sedang berlangsung, tetapi yang pasti akan tiba waktunya. Bom waktu yang terpasang ini, karena bekerja dalam logika pragmatisme, hasrat berkuasa, dan kalkulasi untung-rugi, maka masih sulit dijinakkan atau dikendalikan.
Setelah praktik politik uang, dalam menjalankan amanah kekuasaan, bisa dipastikan pelakunya tidak akan bertaubat, tetapi berupaya bagaimana caranya “kembali-modal”.
Pertanyaannya sekarang, mengapa hal ini bisa terjadi? Seharusnya, para calon wakil rakyat melakukan evaluasi diri, bukan menyalahkan rakyat atas fenomena politik uang yang terjadi.
Inilah akar politik transaksional yang seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk lima tahun ke depan. Terlebih dalam menyongsong perhelatan Pilkada tahun ini.***
Penulis : Dewan Redaksi Framenws.id













