Buol

Pahlawan di Laut, Doa yang Mengalir Bersama Ombak

×

Pahlawan di Laut, Doa yang Mengalir Bersama Ombak

Sebarkan artikel ini

Buol, Framenews.id — Pagi itu, langit Buol tampak jernih. Sinar matahari menembus lembut dedaunan di halaman Kantor Bupati, tempat ratusan peserta telah berdiri tegap mengikuti upacara bendera memperingati Hari Pahlawan ke-80, Senin (10/11/2025).

Tak ada sorak, tak ada riuh—hanya keheningan yang sarat makna, seolah setiap embusan angin membawa bisikan sejarah perjuangan bangsa.

Advertisement
Example 300x600
Scroll untuk lanjut membaca

Di tengah barisan peserta, Wakil Bupati Buol, Moh. Nasir Dj. Daimaroto, berdiri tegas sebagai Inspektur Upacara.

Dengan suara mantap, ia membacakan amanat Menteri Sosial RI yang menggugah kesadaran akan betapa besar pengorbanan para pahlawan negeri ini. Setiap kalimatnya menembus hati, mengingatkan bahwa kemerdekaan yang kini dinikmati adalah hasil dari darah dan air mata generasi sebelumnya.

“Jangan pernah lupakan jasa mereka. Tugas kita kini adalah melanjutkan perjuangan itu dengan kerja nyata,” ucapnya lantang, saat membacakan amanat Menteri Sosial RI, pada Peringatan Hari Pahlawan ke 80.

Usai upacara, langkah kaki rombongan beralih menuju Pelabuhan Leok Kelas III. Laut tampak tenang, birunya air berkilau di bawah cahaya matahari pagi. Di sanalah upacara tabur bunga akan digelar — sebuah tradisi yang sederhana, namun sarat makna.

Suasana berubah menjadi syahdu ketika satu per satu pejabat dan tamu undangan berdiri di tepi dermaga. Di bawah komando Kapolres Buol, AKBP Irwan, SH., MH., M.Tr.Opsla, prosesi tabur bunga dimulai. Karangan bunga berwarna merah, putih, dan kuning perlahan dilepaskan ke laut. Bunga-bunga itu mengapung, berputar mengikuti gelombang kecil yang datang dan pergi — seakan menjadi perantara doa bagi arwah para pahlawan yang telah gugur di medan juang.

Hening. Hanya terdengar desir angin dan bunyi lembut ombak yang menyentuh dinding kapal. Beberapa peserta menundukkan kepala, sebagian tampak menitikkan air mata. Dalam keheningan itu, setiap orang seolah berbicara dalam hati — kepada mereka yang telah tiada, kepada para pahlawan yang tak dikenal, namun abadi dalam ingatan bangsa.

Tradisi tabur bunga ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah bentuk penghormatan terdalam, sebuah pengingat akan nilai-nilai kepahlawanan: keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air. Bunga-bunga yang hanyut di laut menjadi simbol harapan agar semangat juang para pahlawan terus hidup dalam diri generasi hari ini.

Ketika upacara usai, sinar matahari kian meninggi. Ombak kecil di Pelabuhan Leok seolah berbisik — membawa doa dan janji bahwa perjuangan belum selesai. Di wajah para peserta, masih tersisa haru dan kebanggaan yang sama: kebanggaan menjadi bagian dari bangsa yang besar karena pahlawan-pahlawannya.

Dan di laut yang biru itu, bunga-bunga yang mengapung perlahan menjauh, seperti mengantarkan pesan abadi

“Perjuangan kami telah selesai. Kini giliran kalian menjaga Indonesia tetap berdaulat.”

[ RED | Framenews.id ]

Example 300x600
Example 300x600
error: DILARANG MENGCOPY KONTEN TANPA IZIN REDAKSI FRAMENEWS.ID