Lyabulyo bukan sekadar makanan, tapi cara orang Buol merawat ingatan. Dari tungku tanah liat dan sagu yang sederhana, lahir rasa yang menyatukan tradisi dan zaman dalam satu suapan.
Oleh : Syarif M Joesoef
BUOL – Di sebuah sudut utara Sulawesi Tengah, tersembunyi rasa yang tak bisa ditemukan di restoran bintang lima manapun.
Namanya Lyabulyo atau Boyit, dalam sebutan lokalnya. Ia bukan sekadar makanan. Ia adalah kenangan. Ia adalah identitas. Ia adalah cara orang Buol menyapa dunia lewat rasa.
Dibuat dari sagu, bahan pangan yang begitu akrab di tanah ini, Lyabulyo dimasak dengan cara yang nyaris meditatif: di atas dua lempengan tanah liat pipih, dibakar perlahan di tungku sederhana.
Setiap kepulan asap yang keluar dari tungku itu, seolah membawa cerita nenek moyang yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Tak ada yang terburu-buru dalam membuat Lyabulyo. Karena di setiap lapisannya, tersimpan kesabaran dan cinta.
Namun zaman tak pernah statis. Modernisasi menyentuh hingga ke dapur tradisional. Lyabulyo hari ini tak lagi polos seperti dulu.
Ia kini akrab dengan bayam hijau segar, ikan teri gurih, lemak daging yang memberi rasa penuh, hingga bumbu tabur yang membangkitkan aroma.
Transformasi ini bukan sebuah kehilangan, melainkan bentuk adaptasi, budaya yang tak melawan arus, tapi belajar menari bersama zaman.
Saya pernah mencicipi Lyabulyo dari tangan seorang ibu tua di kampung kecil Buol. Tangannya cekatan, matanya berbinar saat bercerita tentang bagaimana ibunya dulu mengajarinya memasak.
Saat gigitan pertama menyentuh lidah, bukan hanya rasa yang saya rasakan tapi ada semacam getaran hangat, seperti pelukan dari sejarah yang hidup.
Lyabulyo mungkin sederhana dalam bentuk, tapi kaya dalam makna. Ia adalah bukti bahwa budaya bukan hanya soal tarian atau tenun.
Tapi juga tentang apa yang kita makan, bagaimana kita memasaknya, dan siapa yang duduk bersama kita menikmati hasilnya.
Karena sesungguhnya, setiap suapan Lyabulyo bukan hanya tentang kenyang. Tapi tentang pulang ke akar, ke tradisi, dan ke rasa yang tak lekang oleh waktu.**
Penulis : Redaktur Framenews.id








