Melalui kesempatan itu, Kapolda juga berharap kepada anggotanya untuk tetap menjaga diri dan kekompakan selama bertugas di Papua.
“Latpraops nanti dilaksanakan bersama rekan-rekan TNI dengan tujuan terjaganya sinergitas dan kerjasama demi keberhasilan tugas” jelasnya.
Kapolda juga berpesan agar seluruh personel Brimob yang akan melaksanakan Latpraops mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan penuh kesungguhan untuk menjadi bekal dalam melaksanakan operasi nantinya.
Baca Juga : Polda Sulteng Lakukan Rotasi 517 Personil Bergeser
“Ikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan baik, dengan penuh keseriusan, dengan penuh kesungguhan, jadikan sebagai bekal didalam pelaksanaan operasi nanti,” pesannya.
Selanjutnya Kapolda juga berpesan, agar seluruh personil tetap menjaga diri, menjaga keimanan dan ketaqwaan, menjaga kesehatan, menjaga keselamatan dan keamanan diri, menjaga harkat dan martabat, menjaga kemampuan, dan menjaga komitmen dan integritas untuk senantiasa mengabdi pada bangsa dan negara.
Pati bintang dua itu berpesan kepada personel Brimob yang bertugas BKO di Papua untuk menjaga komunikasi dengan keluarga yang ditinggalkan dan meminta personel untuk menjaga hubungan baik dengan masyarakat dan stakeholder di Papua.
“Kedepankan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun) saat berhubungan dengan masyarakat,” tegasnya
Karena menurutnya, jika masyarakat simpatik, masyarakat tidak akan ragu membantu dan bantuan akan datang dari masyarakat.
“Hari ini saya melepas 110 personil kebanggaan saya, saya bermohon dan berdoa kepada Allah SWT agar kembali nanti dengan jumlah yang sama, tidak kurang satupun, tidak kurang apapun.” Pungkasnya
Dalam rangkaian kegiatan Apel pemberangkatan ini, juga ditampilkan tarian Etai dari Suku Dani di Papua yang diperagakan oleh personil Brimob Polda Sulteng dan Yonif 711/Raksatama.
Setelahnya dilaksanakan prosesi upacara bakar batu dan doa bersama yang diikuti Kapolda, Wakapolda, PJU Polda Sulteng, Perwira Satbrimob Polda Sulteng, personel Brimob persiapan BKO Polda Papua serta menghadirkan anak-anak yatim piatu dari Panti Asuhan Al Fattah dan Panti Asuhan Pelita Hati.
Prosesi bakar batu tersebut memiliki makna mewujudkan rasa syukur, kepada sang pemberi kehidupan. Bakar batu juga sebagai alat bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat. Menyambut kabar bahagia, atau mengumpulkan prajurit untuk berperang dan pesta setelah perang.
(Sumber : Bidhumas Polda Sulteng)














