Tolitoli, Framenews.id – Yayasan Senyum Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Smile Train Indonesia menggelar bakti sosial operasi celah bibir dan lelangit di RSUD Mokopido Tolitoli pada awal tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung Jumat (23/1/2026) ini, mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Tolitoli melalui Dinas Kesehatan serta UPT RSUD Mokopido.
Bakti sosial ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengoptimalkan tatalaksana pasien penderita celah bibir dan lelangit, baik operasi primer maupun sekunder, seperti rekonstruksi bibir, hidung, dan lelangit bagi pasien yang sebelumnya telah menjalani operasi namun belum optimal dari segi fungsi dan estetika.
Penanganan celah bibir dan lelangit pada prinsipnya bertujuan mengembalikan fungsi dasar pasien, seperti berbicara dan makan, sekaligus memperbaiki aspek estetika.
Oleh karena itu, tatalaksana ideal harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan pendekatan medis, psikologis, dan sosial bagi pasien serta keluarganya.
Pada kegiatan kali ini, tercatat sebanyak 10 pasien telah terdaftar dan menjalani proses skrining dengan berbagai variasi kasus, termasuk celah wajah (facial cleft) dan celah bibir bilateral yang memiliki tingkat kesulitan penanganan tinggi. Para pasien berasal dari wilayah Kabupaten Tolitoli dan sekitarnya.
Pelayanan medis dalam kegiatan ini melibatkan dokter gigi spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial yang juga merupakan peserta pendidikan subspesialis Celah Oral dan Maksilofasial di Universitas Hasanuddin, satu-satunya program pendidikan subspesialis di bidang kedokteran gigi di Indonesia.
Konsultan yang terlibat antara lain Dr. Drg. Andi Tajrin, SpBM.Mf SubSp COMf (K) dan drg. Mohammad Gazali Malik, MARS, SpBM.Mf SubSp TMJ,TMf(K), yang juga menjabat sebagai Direktur dan Wakil Direktur RSGMP Universitas Hasanuddin Makassar.
Ketua Yayasan Senyum Sulawesi Tengah, drg. Mohammad Gazali Malik, MARS, SpBM.Mf SubSp TMJ,TMf(K), mengatakan bahwa kolaborasi antara NGO, institusi pendidikan, tenaga medis, dan pemerintah daerah merupakan kunci dalam meningkatkan kualitas pelayanan bagi penderita celah bibir dan lelangit.
“Penanganan pasien celah bibir dan lelangit harus dilakukan secara berkelanjutan dan komprehensif agar fungsi bicara, makan, serta kepercayaan diri pasien dapat pulih secara optimal,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi pasien, keluarga, serta masyarakat, sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan di Kabupaten Tolitoli.
RED














